“Kak Fajar!!”
Begitu serunya sambil sibuk meneruskan pekerjaannya dan sekali-kali membasuh
keringat di keningnya. Terhenyak aku dari tempat dudukku sambil menutup
notification tidak jelas yang ada di gadget sialan ini. Lalu aku berdiri sambil
tersenyum kepada bartender seraya meraih pesananku tadi. Setelah kembali duduk
aku mulai meminum Vanila Latte yang rasanya nikmat ini dengan mata melirik ke
kiri ataupun kanan khawatir kalau-kalau ada seorang yang kukenal datang padaku
ketika aku berusaha keras untuk memiliki waktu tenang sendirian. Ya, hanya
sendirian saja. Ditemani campuran kopi mungkin? Baiklah terserah apa modelnya.
10 menit kemudian…
Ada pandangan cukup menyenangkan di sisi
smoking room yang pada kebetulan di waktu itu hanya outdoor saja, jadi terserah
mau menyalakan rokok ataupun tidak pasti hukumnya sah. Kuperhatikan dengan
seksama sepasang manusia yang sedang kasmaran saling pandang, saling
cubit mencubit, saling ejek mengejek ataupun apalah. Apa saja dilakukannya asal
hati senang. Kusebut sepasang manusia karena merupakan paradoks yang ada,
diciptakannya pria untuk wanita, adanya sebuah sebab yang berakibat. Entahlah,
memang sedikit rumit jika dipandang dari satu sudut pandang apalagi tentang
romansa. Ya, romansa. Aku mulai mencari benda kotak beserta
pasangannya, yah sekali lagi paradoks. Benda kotak bertuliskan Marlboro dan
benda persegi panjang berwarna hijau tua. Kuraih minumanku dengan tergesa
sambil keluar menuju ruangan luar tempat sepasang manusia kasmaran itu sedang
bercengkrama. Kudengarkan semua percakapan dan gombalan manis mereka tentang
cinta, sayang dan lain sebagainya. Waktu itu juga sedikit teringat bahwa diri
ini pernah melakukan hal yang pada waktu itu juga saya perhatikan, dengarkan, pikirkan. Sedikit konyol memang, mungkin sedikit baper kata orang jaman sekarang. Sambil menikmati Vanilla Latte tadi sedikit
tidak luput dari pendengaranku si pria selalu memuji wanitanya dengan segala
macam pujian. Akankah dia berlaku sama ketika berdialog dengan Tuhannya? Orang
macam apa ini pikirku, mereka berbicara tentang cinta mereka yang sejati yang
bahkan hanya 0% dari kata sejati, menurut saya. Kadang terpikir: akankah ada
orang diluar sana yang memiliki pikiran serupa dengan saya, ketika semua harga
diri ditukar dengan 5 komponen huruf yang tidak jelas arahnya ketika mereka
mengucapkannya. Aku tetap melanjutkan pikiran-pikiran aneh yang tak jelas
arahnya ditemani sebuah teman baru yaitu rokok rasa menthol yang konon kata
orang desa bisa bikin mandul.
Sontak aku terbangun dari lamunanku, dan
segera menghapus jauh bayangan kumpulan kata gombal penuh misteri dengan bumbu
bujuk rayu. Kuperhatikan mereka beberapa detik seraya berdiri melihatnya dengan
sengaja agar mereka risih atau merasa tidak nyaman. Setelah mereka sadar ada
sepasang mata yang memperhatikannya. Mereka terdiam sejenak, aku pun segera
berlalu dari tempat itu. Lantai 5 di mall ini yang kutuju, entah hanya
kebetulan atau apa saat itu juga aku melihat pasangan suami istri sedang saling
bercanda beserta anaknya dengan penuh keceriaan. Aku terus melangkah tertuju
pada tujuan awal, yakni lantai 5. Setelah beberapa menit kemudian aku melihat
sebuah tahap romansa yang lebih lanjut yaitu melihat suami dan istrinya yang
sudah lanjut usia. Hanya makan berdua di foodcourt sambil membicarakan sesuatu
yang tak bisa kutangkap oleh telinga ini. Pikirku: Kemana keluarganya yang
lain? Kemana anaknya? Cucunya? Atau yang lebih menggetarkan lagi seperti:
Apakah hubungan seperti mereka memang benar-benar dikatakan fase hubungan manusia
dimana mereka sudah bisa secara handal menerima satu sama lain? Tidak
menganggap pasangannya sebagai seseorang yang berjenis kelamin lain datang pada
hidupnya lalu menjadi teman hidup salah satu diantara mereka. Melainkan sudah
bisa menerima pasangan sebagi sisi lain dari kepribadian mereka. Mungkin bagi
pria tua itu, beliau menganggap istrinya yang memiliki gigi sudah setengah
ompong adalah sebagai cermin dari dirinya sendiri yang lebih feminim dari sifat
pria itu sendiri. Begitupun berlaku sebaliknya. Kali ini aku mulai melankolis
melihat serangkaian peristiwa yang seperti dibuat-buat. Dibuatnya hati ini
menjadi melankolis, dan aku pun sadar. Hati ini bisa menjadi senjata dalam
berbuat kebaikan ataupun keburukan. Karena hati letaknya di tengah-tengah, di
bagian atas akal pikiran manusia. Sedangkan bagian bahwa adalah berisi
keburukan atau syahwat. Terus aku berpikir dengan akal dan hati hingga sampai
di tempat tujuan yaitu xxi atau bioskop yang pada suatu zaman aku pernah
menganggapnya adalah tempat paling naman dalam bercinta. Bercinta? Klise
sekali. Lalu aku duduk seraya mengambil
nafas panjang. Kembali aku terdiam dan berpikir, tidak bisa dibayangkan betapa
hebatnya Pramoedya Ananta Toer menulis bukunya tentang bumi manusia yang begitu
rumitnya. Dan yang sedang kulihat tadi hanyalah masalah cinta atau romansa yang
tidak seberapa dibandingkan politik, ego, kekuasaan dan lain sebagainya. Suatu
kali aku pernah membaca tulisan yang kira-kira begini: jangan anggap remeh si
manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata
elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa,
pendengaranmu dapat menangkap music dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu
akan manusia takkan bakal bisa tuntas.
Ya, memang begini adanya aku pun disadarkan
oleh tulisan yang kuingat kembali itu. Semua manusia pasti melewati semua fase
seperti peristiwa tadi. Kecuali mereka pecinta sesame jenis, ataupun kematian
datang menjemputnya. Setelah menemukan semua jawaban dari kegelisahan ini aku
memutuskan untuk pulang dengan senyum lebar karena sedang mengingat seorang
wanita yang pernah kukenal. Kupasang headset dan sengaja menyetel lagu.
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu
kita satukan tuju
Bersama arungi deras nya waktu
Kaumilikku, Kumilikmu
.jpg)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSedih jar :') Nice!!
BalasHapusmosok sedih se wkwk, makasih bi ;)
Hapus