Minggu, 08 Februari 2015

Teman Hidup

“Kak  Fajar!!” Begitu serunya sambil sibuk meneruskan pekerjaannya dan sekali-kali membasuh keringat di keningnya. Terhenyak aku dari tempat dudukku sambil menutup notification tidak jelas yang ada di gadget sialan ini. Lalu aku berdiri sambil tersenyum kepada bartender seraya meraih pesananku tadi. Setelah kembali duduk aku mulai meminum Vanila Latte yang rasanya nikmat ini dengan mata melirik ke kiri ataupun kanan khawatir kalau-kalau ada seorang yang kukenal datang padaku ketika aku berusaha keras untuk memiliki waktu tenang sendirian. Ya, hanya sendirian saja. Ditemani campuran kopi mungkin? Baiklah terserah apa modelnya.

10 menit kemudian…
Ada pandangan cukup menyenangkan di sisi smoking room yang pada kebetulan di waktu itu hanya outdoor saja, jadi terserah mau menyalakan rokok ataupun tidak pasti hukumnya sah. Kuperhatikan dengan seksama sepasang manusia yang sedang kasmaran saling pandang, saling cubit mencubit, saling ejek mengejek ataupun apalah. Apa saja dilakukannya asal hati senang. Kusebut sepasang manusia karena merupakan paradoks yang ada, diciptakannya pria untuk wanita, adanya sebuah sebab yang berakibat. Entahlah, memang sedikit rumit jika dipandang dari satu sudut pandang apalagi tentang romansa. Ya, romansa. Aku mulai mencari benda kotak beserta pasangannya, yah sekali lagi paradoks. Benda kotak bertuliskan Marlboro dan benda persegi panjang berwarna hijau tua. Kuraih minumanku dengan tergesa sambil keluar menuju ruangan luar tempat sepasang manusia kasmaran itu sedang bercengkrama. Kudengarkan semua percakapan dan gombalan manis mereka tentang cinta, sayang dan lain sebagainya. Waktu itu juga sedikit teringat bahwa diri ini pernah melakukan hal yang pada waktu itu juga saya perhatikan, dengarkan, pikirkan. Sedikit konyol memang, mungkin sedikit baper kata orang jaman sekarang.  Sambil menikmati Vanilla Latte tadi sedikit tidak luput dari pendengaranku si pria selalu memuji wanitanya dengan segala macam pujian. Akankah dia berlaku sama ketika berdialog dengan Tuhannya? Orang macam apa ini pikirku, mereka berbicara tentang cinta mereka yang sejati yang bahkan hanya 0% dari kata sejati, menurut saya. Kadang terpikir: akankah ada orang diluar sana yang memiliki pikiran serupa dengan saya, ketika semua harga diri ditukar dengan 5 komponen huruf yang tidak jelas arahnya ketika mereka mengucapkannya. Aku tetap melanjutkan pikiran-pikiran aneh yang tak jelas arahnya ditemani sebuah teman baru yaitu rokok rasa menthol yang konon kata orang desa bisa bikin mandul.

Sontak aku terbangun dari lamunanku, dan segera menghapus jauh bayangan kumpulan kata gombal penuh misteri dengan bumbu bujuk rayu. Kuperhatikan mereka beberapa detik seraya berdiri melihatnya dengan sengaja agar mereka risih atau merasa tidak nyaman. Setelah mereka sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya. Mereka terdiam sejenak, aku pun segera berlalu dari tempat itu. Lantai 5 di mall ini yang kutuju, entah hanya kebetulan atau apa saat itu juga aku melihat pasangan suami istri sedang saling bercanda beserta anaknya dengan penuh keceriaan. Aku terus melangkah tertuju pada tujuan awal, yakni lantai 5. Setelah beberapa menit kemudian aku melihat sebuah tahap romansa yang lebih lanjut yaitu melihat suami dan istrinya yang sudah lanjut usia. Hanya makan berdua di foodcourt sambil membicarakan sesuatu yang tak bisa kutangkap oleh telinga ini. Pikirku: Kemana keluarganya yang lain? Kemana anaknya? Cucunya? Atau yang lebih menggetarkan lagi seperti: Apakah hubungan seperti mereka memang benar-benar dikatakan fase hubungan manusia dimana mereka sudah bisa secara handal menerima satu sama lain? Tidak menganggap pasangannya sebagai seseorang yang berjenis kelamin lain datang pada hidupnya lalu menjadi teman hidup salah satu diantara mereka. Melainkan sudah bisa menerima pasangan sebagi sisi lain dari kepribadian mereka. Mungkin bagi pria tua itu, beliau menganggap istrinya yang memiliki gigi sudah setengah ompong adalah sebagai cermin dari dirinya sendiri yang lebih feminim dari sifat pria itu sendiri. Begitupun berlaku sebaliknya. Kali ini aku mulai melankolis melihat serangkaian peristiwa yang seperti dibuat-buat. Dibuatnya hati ini menjadi melankolis, dan aku pun sadar. Hati ini bisa menjadi senjata dalam berbuat kebaikan ataupun keburukan. Karena hati letaknya di tengah-tengah, di bagian atas akal pikiran manusia. Sedangkan bagian bahwa adalah berisi keburukan atau syahwat. Terus aku berpikir dengan akal dan hati hingga sampai di tempat tujuan yaitu xxi atau bioskop yang pada suatu zaman aku pernah menganggapnya adalah tempat paling naman dalam bercinta. Bercinta? Klise sekali.  Lalu aku duduk seraya mengambil nafas panjang. Kembali aku terdiam dan berpikir, tidak bisa dibayangkan betapa hebatnya Pramoedya Ananta Toer menulis bukunya tentang bumi manusia yang begitu rumitnya. Dan yang sedang kulihat tadi hanyalah masalah cinta atau romansa yang tidak seberapa dibandingkan politik, ego, kekuasaan dan lain sebagainya. Suatu kali aku pernah membaca tulisan yang kira-kira begini: jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap music dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu akan manusia takkan bakal bisa tuntas.

Ya, memang begini adanya aku pun disadarkan oleh tulisan yang kuingat kembali itu. Semua manusia pasti melewati semua fase seperti peristiwa tadi. Kecuali mereka pecinta sesame jenis, ataupun kematian datang menjemputnya. Setelah menemukan semua jawaban dari kegelisahan ini aku memutuskan untuk pulang dengan senyum lebar karena sedang mengingat seorang wanita yang pernah kukenal. Kupasang headset dan sengaja menyetel lagu.

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu
kita satukan tuju
Bersama arungi deras nya waktu
Kaumilikku, Kumilikmu
Kau milikku, Ku milikmu





3 komentar: